Doa Pembuka
Tuhan, aku mempersembahkan rosario ini bagi kemuliaan-Mu agar aku dapat menghormati Bunda Yesus, Perawan Terberkati sehingga aku dapat berbagi dan merenungkan penderitaan Yesus melalui penderitaan dirinya.
Aku dengan rendah hati memohon kepada-Mu untuk memberikan pertobatan sejati bagi semua dosa yang telah kuperbuat, dan berilah aku kebijaksanaan dan kerendahan hati.
Doa Tobat
Allah Yang Maha Rahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah Yang Maha Murah, ampunilah aku, orang berdosa. Amin!
Salam Maria …. (3x)
Doa sebelum Renungan
Bundaku, bagilah kesedihanmu padaku. Biarlah aku ikut menanggungnya bersamamu, untuk merenungkan kematian Yesus Putramu bersamamu.
Dukacita Pertama: Nubuat Simeon (Luk 2:34–35)
Bunda yang berduka, aku turut bersedih karena pedang penderitaan pertama yang menusuk hatimu. Pada saat di Bait Allah, Simeon tua bernubuat bahwa segala kekejaman akan dialami oleh Yesusmu terkasih.
Kau telah mengetahuinya dari Kitab Suci bahwa ke kejaman akan mengakibatkan kematian-Nya di depan matamu, di atas kayu salib hina, kehabisan darah, ditolak oleh banyak orang, sedangkan engkau tak berdaya membela atau menolong-Nya.
Demi penderitaan hatimu, aku mohon padamu, Ratuku, perolehkanlah bagiku rahmat sehingga selama hidup dan pada saat ajal, aku selalu ingat akan sengsara Yesus, dan kedukaanmu selalu tertanam di hatiku.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Kedua: Pelarian ke Mesir (Mat. 2:13–14)
Bunda yang berduka, aku turut bersedih karena pedang penderitaan kedua yang menusuk hatimu. Pada saat tak lama setelah kelahiran-Nya, Putramu yang tak berdosa terancam kematian yang dilakukan justru oleh orang-orang yang akan diselamatkan-Nya dengan kedatangan-Nya di dunia ini sehingga dalam kegelapan malam, engkau beserta Putramu dan suamimu, Santo Yosef berlari ke Mesir.
Dan engkau wanita muda yang lemah lembut telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan dengan mengalami banyak kesulitan bersama Putramu yang masih lemah, melalui padang pasir dan kota yang tidak bersahabat, dan akhirnya sebagai orang asing yang tidak mengenal siapa pun, engkau telah hidup selama di Mesir dalam kemiskinan dan kehinaan.
Aku mohon, Bundaku terkasih, perolehkanlah bagiku rahmat untuk menerima bersamamu dengan kesabaran hingga ajal, yang merupakan akhir dari hidup yang menyedihkan ini sehingga akhirnya aku diperkenankan untuk menghindari hukuman abadi neraka yang pantas kuperoleh.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Ketiga: Yesus Hilang di Yerusalem
(Luk. 2:43–45)
Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan ketiga yang menusuk hatimu. Pada saat di Yerusalem, engkau kehilangan Putramu selama tiga hari.
Tidak melihat Belahan Hatimu di sampingmu dan tidak mengetahui alasan perbuatan-Nya, dapat kubayangkan dengan baik, Ratuku terkasih bahwa selama malam-malam itu engkau tidak dapat tidur dengan nyenyak dan hanya memikirkan Dia, Hartamu satu-satunya.
Demi kepedihan hatimu selama tiga hari yang terasa panjang dan pahit, aku mohon padamu, perolehkanlah bagiku rahmat agar aku tidak akan pernah kehilangan Tuhanku, selalu berpegang teguh pada-Nya sehingga pada saat aku meninggalkan dunia ini, aku akan disatukan dengan-Nya.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Keempat: Yesus Bertemu Bunda-Nya di Jalan Salib (Luk. 23:27–31)
Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan keempat yang menusuk hatimu. Pada saat engkau melihat Putramu terkasih dijatuhi hukuman mati, diikat dengan tali dan rantai, tubuh berlumur darah dan luka, dimahkotai duri-duri kasar, jatuh di bawah salib berat yang dipanggul-Nya pada pundak terluka, berjalan bagai domba tak bersalah untuk mati demi cinta-Nya kepada kami.
Matamu memandang-Nya dan Dia menatapmu, pandangan yang sekejap itu bagaikan beribu-ribu panah yang melukai hatimu yang manis.
Demi penderitaan yang sangat sedih itu, aku mohon padamu, perolehkanlah bagiku rahmat untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhanku dan memanggul salibku dengan sukacita bersama dengan Yesus sampai akhir hayatku.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Kelima: Yesus Wafat di Kayu Salib
(Yoh. 19:25–27)
Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan kelima yang menusuk hatimu. Pada saat di Golgota, engkau melihat Yesus Putramu terkasih wafat secara perlahan-lahan di depan matamu. Dengan begitu, banyak siksaan dan penghinaan pada kayu salib hina.
Engkau tak berdaya memberikan penghiburan yang terkecil sekali pun seperti yang diberikan seorang penjahat besar yang mendekati ajalnya.
Bundaku yang paling kukasihi, aku mohon, demi penderitaan yang engkau alami bersama dengan Putramu yang wafat, dan demi kepedihan yang engkau rasakan, terutama pada saat-saat terakhir di mana Dia berbicara kepadamu dari atas kayu salib, mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan kami semua dalam diri Yohanes, murid-Nya sehingga menjadikan kami semua anakmu, dan setelah ketetapan tersebut, engkau melihat-Nya menundukkan kepala dan wafat. Perolehkanlah rahmat dari Kekasih tersalibmu agar aku dapat hidup dan mati dengan menyangkal segala hal duniawi sehingga aku dapat menghabiskan hidupku hanya untuk Allah dan kemudian pada akhirnya memasuki surga untuk menikmati-Nya, dengan saling bertatap muka.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Keenam: Yesus Diturunkan dari Kayu Salib
(Yoh. 19:38–40)
Bunda yang berduka, aku ikut bersedih karena pedang penderitaan keenam yang menusuk hatimu, pada saat engkau melihat hati manis Putramu ditusuk dengan tombak.
Dia telah wafat bagi manusia yang tidak tahu berterima kasih yang setelah kematian-Nya tidak puas dengan siksaan dan penghinaan yang telah diberikan kepada-Nya.
Demi penderitaan hebat yang telah kaujalani ini, aku mohon padamu, perolehkanlah rahmat bagiku untuk masuk ke dalam Hati Kudus Yesus yang terluka dan terbuka untukku sehingga di dalam hati itu, aku dapat merasakan bahwa di sanalah satu-satunya tempat terindah dari kasih, di mana jiwa-jiwa yang mengasihi Allah beristirahat dan hidup di dalam-Nya. Aku tidak boleh mengasihi apa pun, kecuali Allah. Perawan Tersuci, engkau dapat memperolehkannya bagiku, aku berharap padamu.
Bapa Kami …. Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Dukacita Ketujuh: Yesus Dimakamkan
(Yoh. 19:38–42)
Bunda yang berduka, aku bersedih karena pedang penderitaan ketujuh yang menusuk hatimu; pada saat engkau melihat Putramu yang telah wafat dalam pelukanmu, tidak seindah dan sempurna seperti pada saat engkau menerima-Nya di palungan Betlehem, tetapi dengan tubuh berlumur darah, pucat, dan dikoyak oleh luka-luka sehingga tulang-Nya pun terlihat, dan engkau kemudian berkata, “Putraku, beginikah kasih memperlakukan-Mu?”
Pada saat Dia dibawa ke makam, engkau ingin menemani Dia dan meletakkan-Nya dengan tanganmu sendiri dan mengucapkan salam perpisahan yang terakhir, kemudian engkau meninggalkan hatimu yang penuh kasih terkubur bersama Putramu.
Dengan pengorbanan dan kepedihan jiwamu yang suci, aku mohon, perolehlah bagiku, o Bunda yang penuh kasih, pengampunan dari segala perbuatanku yang menyakiti dan melawan Tuhanku terkasih, yang kusesali dengan sepenuh hati. Kuatkanlah aku dalam pencobaan, temanilah aku pada saat ajalku, selamatkanlah jiwaku melalui kemurahan Yesus dan engkau sehingga pada suatu saat, setelah segala sesuatu yang buruk ini, aku boleh sampai ke surga untuk menyanyikan lagu pujian bagi Yesus dan engkau untuk selama-lamanya.
Bapa Kami …., Salam Maria …. (7x), Bundaku ….
Penutup
Ya Yesus, karena sengsara-Mu yang telah dinubuatkan oleh Simeon, pedang penderitaan telah menikam hati ternanis Bunda Maria, Perawan yang terkudus dan termulia.
Anugerahkanlah pada kami yang merenungkan dan menghormati dukanya agar diperbolehkan menikmati pahala yang penuh rahmat dari sengsara-Mu karena Engkau yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.
(Doa Paus Pius VII)
