BerandaTempat Ziarah dan Gua MariaGua Maria Lourdes Sedangsono, Yogyakarta

Gua Maria Lourdes Sedangsono, Yogyakarta

Keberadaan Gua Maria Sendang sono memegang peran penting dalam penyebaran dan perkembangan umat Katolik di Jawa. Di tempat inilah dibabtis 173 umat Katolik pertama di Jawa Tengah termasuk Bapak Barnabas Sarikromo sebagai katekumen pertama oleh Rm. Van Lith, SJ. Peristiwa bersejarah ini sekarang terukir dalam salah satu relief yang ada di Sendang Sono.

Sejarah Singkat

Nama Sendang Sono berasal dari dua kata yaitu sedang yang berarti mata iar, atau telaga dan Sono yang merupakan nama salah satu jenis pohon. Sedang sono merupakan mata air yang terdapat di bawah pohon sono. Sampai sekarang pohonsono masih tumbuh di tempat itu yang membuat Gua Maria sendang sono makin asri dan sejuk. Mata air yang ada di sendang sono ini sejak dulu sudah dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para biksu Buddha setelah mengadakan doa di Candi Borobudur dan kemudian pulang kembali ke biara (Boro Kidul) singgah ke tempat ini untuk beristirahat. Mereka minum air yang ada di sendang tersebut. Mata air (sendang) yang ada di tempat itu di kelilingi oleh pohon-pohon sono yang rindang. Warga sekitar percaya bahwa di tempat itu berdiam roh-roh halus yang menjaga tempat itu sehingga warga sering mempersembahkan sesaji di tempat itu. Tempatnya yang tenang juga sering dimanfaatkan orang untuk nyepi atau semedi.

Sumber air yang ada di Sendang Sono diberkati pada tanggal 14 Desember 1904, oleh Rama van Lith SJ. Umat Katolik pertama di babtis di sendang itu juga, pada saat itu ada 173 orang dibaptis di Sendangsono. Menurut keyakinan katolik air yang sudah diberkati menjadi air suci. Beberapa tahun setelah pemberkatan sumber air yang ada di Sendang Sono lalu muncul gagasan untuk membuat sebuah Guat Maria di tempat itu. Alasan pembuatan ini karena devosi kepada Maria sudah hidup dikalangan umat Katolik Jawa. Ide itu pertama-tama muncul dari Rama JB. Prennthaler SJ. Beliau ingin agar umat Katolik di Boro dan sekitarnya bisa mempunyai tempat doa yang nyaman. Pendirian gua Maria ini akan meningkatkan iman umat.

Ide baik dari JB. Prennthaler SJ disambut baik oleh umat Katolik yang berada di sekitar Sendangsono. Mereka lalu bekerjasama untuk mewujudkan sebuah tempat yang akan mereka gunakan untuk berdoa. Mereka mengusung batu-batu untuk membuat gua yang akan digunakan untuk mentahtakan patung Maria. Patung Maria di datangkan dari Swiss, waktu itu belum ada jalan yang bisa dilalui kendaraan menuju ke Sendangsono sehingga patung yang berbobot sekitar 300 kg itu harus digotong bersama-sama menuju lokasi Gua Maria. Sungguh suatu kerjasama yang sangat indah dan kerjasama membuktikan bahwa beban berat akan terasa ringan jika ada kerjasama dan saling tolong. Mereka harus mengangkat patung Maria itu dari Sentolo menuju lokasi Sendangsono yang berjarak kira-kira 30 km.

Gua Maria Sendangsono diberkati pada 8 Desember 1929, hari itu merupakan hari raya Maria dikandung tanpa noda.

Saat itu gereja juga memperingati 75 tahun ajaran resmi gereja tetang Maria dikandung tanpa noda. Saat memimpin misa pemberkatan ini Rama JB. Prennthaler SJ mengatakan bahwa pendirian Gua Maria Sendangsono merupakan wujud syukur atas perlindungan Bunda Maria pada karya misi di Kalibawang. Keberadaan Gua Maria Sendangsono akan menjadi tonggak sejarah dalam misi Gereja Katolik di Kalibawang dan juga di Jawa. Pada Peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang ini, Paus Pius XI memberikan penghargaan kepada Bapak Barnabas Sarikrama atas jasanya dalam mengembangkan misi katolik di Kalibawang.

Rama JB. Prennthaler menekankan lagi bahwa Gua Maria bukan tempat untuk mencari mukjizat. Gua Maria adalah tempat doa, tempat orang bersyukur atas kebaikan dan cinta Tuhan yang senantiasa melimpah bagi setiap orang. Tuhan adalah maha kasih Ia tidak akan membairkan umat yang dicintai-Nya menderita.

Stasi jalan salib atau perhentian jalan salib mulai dibangun tahun 1958, di setiap perhentian diberi visualisasi kisah sengsara Tuhan Yesus. Perhentian jalan salib ini dibangun mulai dari Gereja Promasan sampai Sendangsono, jarak antara Gereja Promasan dan Sendangsono kira-kira 1 km. Jalan salib dalam setiap Gua Maria bertujuan agar umat mampu merenungkan penderitaan Kristus sebagai lambang cinta yang maha agung kepada manusia. Setelah pembangunan stasi jalan salib itu lalu tidak dilakukan lagi pembangunan yang lain. Tujuan dari pembangunan tahap awal ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi para peziarah.

Pembangunan Sendangsono dilakukan lagi mulai tahun 1969, arsitek yang membangun tempat ini adalah arsitek pribumi yaitu Rama YB. Mangunwijaya Pr. Jika saat ini peziarah melihat bagaimana Sendangsono terlihat indah itu merupakan hasil karya putra bangsa. Bangunan-bangunan karya Rm. Mangun kaya akan nilai-nilai filosofi, sendangsono dibangun dengan konsep rumah Jawa. Bangunan rumah Jawa terdiri dari pelataran, rumah depan, kemudian tengah dan belakang. Masing-masing bagian itu memiliki fungsi sendiri-sendiri.

Saat memasuki lokasi Gua Maria peziarah dapat berdoa

jalan salib. Ada dua rute jalan salib yang disediakan, jalur pertama ialah jalur panjang yang dimulai dari Gereja Promasan dan jalur pendek yang ada di kompleks Sendangsono. Rute jalan salib memiliki filosofi bagaimana perjuangan manusia untuk hidup dan mencari kebahagiaan. Jalan salib juga selalu mengingatkan manusia akan Allah yang terlebih dulu mengasihi manusia. Pada jalan salib pendek, stasi-stasi itu dihiasi dengan ornamen bunga mawar. Makna dari ornamen itu adalah perjuangan manusia tidak akan sia-sia melainkan mendapatkan nilai yang sangat berharga.

Saat memasuki kompleks Sendangsono peziarah akan memasuki bagian pelataran. Pelataran merupakan area dimana kita masih bisa berjumpa dengan orang-orang lain beristirahat dan berbincang dengan sesama. Bagian pelataran ditandai dengan bangunan-bangunan rumah panggung. Bangunan-bangunan juga tidak diberi warna khusus. Bagunan ini bisa diguakan untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman. Rumah panggung dibuat sederhana yang terbuka untuk siapapun tanpa memandang kelas sosial.

Setelah memasuki pelataran dan peziarah melanjutkan langkahnya, maka ia akan memasuki bagian sakral. Bagian sakral masih dipisah menjadi dua bagian yaitu bagian pelataran dan bagian sentral. Pelataran berwarna merah dan putih melambangkan keberanian dan lambang roh ilahi serta kesucian. Pada bagian sentral ada bangunan Gua Maria dan Kapel Tri Tunggal Mahakudus (Kapel Trinitas). Bagian sentral merupakan ruang pertemuan antara manusia dengan Tuhannya melalui perantaraan Maria. Manusia bertemu dengan Tuhan dalam keheningan diri, memasuki wilayah yang sangat pribadi. Manusia harus hening cipta untuk dapat bertemu dengan Sang Ilahi.

Baguanan-bangunan yang ada di Sendangsono juga mencerminkan simbol-simbol iman Kristiani. Bangunan-bangunan itu antara lain:

  • Kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
  • Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara gua. Ciri bangunan: tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Tiang tiga pilar mencerminkan pokok iman kristiani akan Allah Tri Tunggal. Kerangka penyangga mencerminkan eratnya hubungan antara Allah Tri Tunggal dengan para Rasul. Kehidupan para Rasul sangat bergantung pada penyangganya yaitu Allah. Atap terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan Rasul Yesus yang berjumlah 12 orang.
  • Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Harapannya Maria menjadi pelindung dan pengantara bagi segala bangsa untuk bertemu dengan Tuhan.
  • Salib Milenium. Salip Milenium dipasang pada tahun 2000 sebagai tanda mulainya milenium ke tiga.

Gua Maria Sendangsono merupakan Gua Maria yang terkenal di Indonesia. Banyak peziarah datang ke tempat ini untuk berdoa. Gua Maria ini sering disebut sebagai “Lourdesnya” Asia Tenggara. Di Pulau Jawa Sendangsono merupakan tempat ziarah Maria yang paling tua selain itu Sedangsono memiliki kaitan kuat dengan sejarah berdirinya Gereja di Indonesi

 

Alamat:

Kalibawang, Kulon Progo (Jl.Raya Muntilan – Wates), Paroki Promasan, telpon 029221130. Presmian 08 Desember 1929 Pastor RP Prennthaler Sj.

Misa setiap Sabtu selama bulain mei & Oktober pkl 16.00. Penginapan dan Ketering : Etty 081328517639

Latest Posts

Related Posts

0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop
    Open chat
    Butuh bantuan?
    Halo, ada yang bisa kami bantu?