Antonius lahir di Valeraia, Italia sekitar tahun 468. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 8 tahun dan saat itu ia diasuh oleh St. Severinus. Ia lalu dikirim untuk tinggal bersama pamannya, Uskup Constantius di Bavaria.
Di seluruh hidupnya Antonius senantiasa mencari keheningan. Dan ketika berada di Bavaria, ia pun menjadi pertapa. Ketika kembali ke Italia pada tahun 488, ia bergabung dengan seorang imam bernama Marius bersama teman-temannya. Mereka hidup sebagai pertapa di gua-gua di sepanjang pesisir Danau Como.
Cara hidup Antonius dengan mati raga setiap hari, berdoa berjam-jam, meditasi dan khotbah-khotbahnya telah menarik perhatian banyak orang yang menjadi pengikutnya.
Karena takut bahwa kemahsyurannya akan membuat dia mengalami kesia-siaan, ia pun melarikan diri ke Lerins di daerah Gallia. Ia hidup di sana sebagai seorang pertapa, sekali lagi hidup dalam keheningan.
Antonius meninggal sekitar tahun 520, dengan meninggalkan kekudusan dan mukjizat-mukjizat.
Mengapa orang mencari keheningan? Barangkali doa yang dibacakan pada hari pesta St. Antonius dapat menolong kita untuk memahaminya. Kita berdoa kepada Allah agar ‘menjauhkan dari budi dan hati kita, apa saja yang akan memisahkan kita dari Roh Allah yang berdiam di dalam diri kita’.
